Tuesday, 17 February 2009

hari-hari merenda kesabaran

Sabar adalah berusaha agar hati kita senantiasa husnudzon padaNya, menerima segala ketentuanNya walau kadang terasa pahit, menyakitkan dan menimbulkan keresahan yang dalam pada jiwa kita. Semua itu karena kekerdilan jiwa kita yang belum mampu memetik hikmahNya

Seringkali dahan pepohonan lebih banyak bercabang usai ditebang, dan sekian banyak dahan akan akan bertunas usai dilukai. Bismillah…segala kepahitan yang ada semoga lebih mendewasakanku, mematangkan kepribadianku hingga aku lebih tenang menghadapi kehidupan ini, lebih sabar menerima garisNya


Sabar adalah pandai mensyukuri nikmatNya dalam tiap episode kehidupan ini. Sabar adalah merasa bahagia apabila kita bisa membuat orang lain tersenyum, apabila kita bisa membahagiakan orang lain

Sabar adalah meniti hari-hari yang selama ini kurintis. Muslimah yang tenang, matang, dan dewasa….begitu sulitnya

Sabar adalah tiada letih berdoa, meminta kepadaNya, yakin suatu saat akan dikabulkannya, tidak hari ini…ya esok hari, tidak di dunia…. ya di akhirat

Bagian dari kesabaran adalah menguatkan kesabaran yang kita miliki. Sabar adalah berikhtiar maksimal. Hasilnya…kita serahkan padaNya. Dengan satu catatan, ikhtiar itu harus sesuai dengan aturanNya, rambuNya…Allah, hari-hari bersamaMu adalah sebenar-benarnya hari….

Sabar adalah menyadari bahwa tiap episode dalam kehidupan adalah wujud pertolonganNya. Wujud pertolonganNya dan terkabulnya doa kita tidak selalu sama persis dengan apa yang kita inginkan dan harapkan. Allah punya cara sendiri untuk mengatur kehidupan kita. disegerakanNya apa yang baik untuk kita, ditundaNya apa-apa yang tidak baik untuk kita sekarang

Ya…pertolongan Allah berwujud lain mungkin agar kita tidak terperangkap dalam kesengsaraan, tergantung bagaimana kita bisa sabar, bersyukur, dan ridha dengan keputusanNya

Sabar adalah mensyukuri nikmatNya dengan memanfaatkan segala yang kita miliki untuk menegakkan dienNya sebelum Dia mengambil dengan cara yang terbaik menurutNya…
Ya Rabb…
Bimbinglah hamba merenda kesabaran di jalanMu…
Amiin…..

adit in memoriam


“Eyangg….lagi ngapain? Kangen ga sama….adit??”

Suara itu terdengar begitu nyaring dan lucu. Kami sekeluarga begitu kenal dengan suara itu. Suara seorang bocah berumur 3 tahun yang beberapa tahun ini begitu akrab dengan keluarga kami. Tak ada hubungan darah…yang ada hanya perasaan sayang setiap kali menatap wajah menggemaskan itu.

Pertama kali aku melihatnya, ketika ia masih berumur 1 tahun, setiap pagi selalu duduk diatas jangkar di depan teras rumahnya sambil terus memperhatikan apapun yang lewat di depan rumahnya. Termasuk kami. Seperti balita pada umumnya, dia begitu menggemaskan….secara naluri, rasa ingin menggendong, mencubit pipinya (hehe…) selalu hadir. Tapi aku segan dengan ibunya. Ga lucu ntar tiba2 dimarahin



Suatu hari, ibuku menggendongnya membawa masuk ke dalam rumah kami. Spontan kami semua berebut ingin menggendongnya….ya singkat cerita, sejak hari itu kami sekeluarga berlangganan menjadi baby sitternya….

Sekarang dia tinggal di palembang. Ikut bundanya karena bunda dan ayahnya tak lagi bersama. Miris memang…sekecil itu, adit harus menerima kenyataan pahit. Tapi saat menatap mata bulat itu…aku melihat ada kekuatan luar biasa untuk terus menyayangi bundanya, menjadi harapan bundanya. Untuk ukuran anak seusianya, adit sungguh sangat mandiri. Dia memiliki bakat menjadi pemimpin lewat sikap tegasnya.

Adit tak lagi disini, tapi suara itu masih selalu bisa kami dengar. Dan terakhir lewat hape di loudspeaker, dia kembali membuat kami sekeluarga tertawa…
“eyang, adit bisa nyanyi. Kata bunda nanti mau masuk sekolah. Eyang mau dengerin ga?

Jadilah…lantunan lagu mamang tukang bakso itu terdengar….suara yang cukup lancar dan tetap saja lucu, membuat kami tidak bisa menahan tawa…

Ah…adit, satu diantara jutaan anak2 yg selalu membuatku memuji kebesaranNya, mengagungkan asmaNya…bahwa tiap2 jiwa diberi keunikan---kelebihan dan kekurangan—masing2

Subhanallah...Allahuakbar!